Jumat, Desember 17, 2010

Sembilan Mata Air Keberanian

Menjadi berani, bukan berarti sama sekali tak punya rasa takut. Takut dan berani adalah sifat dasar manusia. Itu alasannya, ketika orang-orang kafir Quraisy hampir saja mengetahui keadaan Rasulullah SAW. dan Abu Bakar didalam Gua Tsur, Rasulullah berjata kepada Abu Bakar ra. “La Tahzan”, jangan takut dan jangan khawatir. Perkataan Rasulullah yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 40 itu, tidak menafikan adanya kekhawatiran. Tapi semacam memberi jaminan bahwa kedua perasaan itu meski ada dalam diri setiap manusia, tidak perlu dibesar-besarkan.

Tentu saja, untuk mencapai kondisi itu ada syaratnya. Karena, selanjutnya Rasul mengatakan, “Innallaha ma’ana”, Sesungguhnya Allah bersama kita. Kebersamaan Allah artinya, aia akan memberikan jalan keluar bagi segala kesempitan, memberi kemudahan saat menghadapi kesulitan. Sehingga manusia tidak perlu khawatir. Yang penting sekarang, bagaimana Agar Allah senantiasa bersama kita, bukan melupakan atau meninggalkan kita. Itulah rahasia yang paling penting agar diri menjadi berani.

Ada banyak sikap lain yang perlu ditumbuhkan untuk menunjukkan keberanian.

PERTAMA, takut kepada Allah. Rasa takut tidak dapat dihilangkan tapi hanya bisa direstrukturisasi. Jauhi rasa takut yang tidak pada tempatnya. Dalam Al-Qur’an Allah menyebut kata takut yang diistilahkan Khosyah sebanyak 48 kali. Dalam banyak ayat itu Allah menekankan bahwa rasa takut yang paling benar hanyalah kepada Allah. Salah satunya adlah firman-Nya yang berbunyi, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa terhadap agama kamu. Oleh sebab itu janganlah takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku (Allah).” (QS. Al-Maidah: 3)

Rasa takut yang tidak benar harus diubah. Karena ketakutan yang tidak benar dapat melahirkan tindakan negatif yang sebenarnya harus lebih ditakuti dan harus dihentikan. Orang yang takut lapar bisa terdorong mencuri, takut kalah inginnya main curang. takut rugi lalu menipu, itu semua tidak benar. Takut lapar sama sekali tidak dilarang tapi selesaikan dengan bekerja yang baik. Takut kalah juga baik asal diikuti dengan upaya keras dan cerdas untuk bisa menang. Takut terhadap urusan dunia seharusnya bagian dari rasa takut terhadap urusan yang lebih besar yaitu kepada Allah.

Sebaliknya, orang yang takut kepada Allah, otomatis akan memperoleh sumber keberanian menempuh resiko perjuangan dalam segala konteks kebenaran. Termasuk resiko perjuangan mencari nafkah, membela si lemah dari si kuat yang dzalim, menanggung resiko pahit dalam menyampaikan kebenaran dan sebagainya. “Jadikan tantangan sebagai peluang,” begitu petunjuk orang-orang sukses. Artinya, tantangan adalah dinamika sekaligus resiko hidup yang pasti ada. Sehingga ia tidak boleh dipandang sebagai penghambat melainkan sebagai motivator.

KEDUA, yakinlah pada pertolongan dan bantuan Allah, Allah itu dekat. Bahkan lebih dekat dari urat leher. Manusia akan merasa jauh dari Allah jika ia meninggalkan larangan dan meninggalkan perintah-Nya. Akibatnya ia tidak memiliki keyakinan lagi akan bantuan Allah. Hatinya selalu takut dan penuh rasa tidak percaya diri.

Salah satu yang dimiliki para tokoh yang berani mempertahankan kebenaran adalah keyakinan penuhnya pada pertolongan Allah. Itulah yang kita dapati dalam kisah para tokoh dan para pahlawan. Hati mereka telah terwarnai oleh keimanan kepada Allah hingga membuahkan keyakinan yang kuat kepada Allah. Ia percaya sepenuhnya kepada Allah bahwa tindakannya akan selalu berada dibawah pengawasan Allah, sekaligus mendapat perlindungan dari-Nya. Dia percaya Allah akan membelanya baik didunia, maupun kelak dipengadilan akhirat. Hari disaat semua pembelapun turut diadili, tidak ada lagi dipembela selain Allah. Rasa percaya itulah yang melahirkan keberaniaan.

KETIGA, milikilah tujuan hidup yang benar. Setiap orang memiliki tujuan hidup. Tujuan hidup manusia berbeda-beda. Ada orang yang ingin hidup kaya, sehingga ia mencari kekayaan siang malam tanpa henti. Tanpa mempedulikan orang lain. Ada orang yang tujuan hidupnya ingin dihormati. Sehingga ia selalu mencoba berelasi dengan orang-orang penting, berambisi akan kedudukan, meremehkan orang-orang kecil dan selalu ingin dijunjung tinggi. Ada orang yang tujuan hidupnya ingin menjadi pandai, maka kepandaianlah yang diagungkan. Semua diukur dari akal, yang tidak masuk akal ditolak.

Tetapi tujuan hidup itu akan sangat berpengaruh pada keberanian menanggung resiko. Seseorang akan menjadi sangat penakut bila ia dihantui oleh resiko yang dianggap bisa mengancamnya gagal meraih apa yang menjadi tujuan hidupnya. Karenanya, segala tujuan hidup seharusnya bernuara pada: Kebahagiaan di akhirat. Allah SWT mengingatkan kaum beriman dengan kebahagian disurga sebagai kenikmatan yang tiada duanya. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Fushilat (41): 30)

KEEMPAT, tanamkan orientasi cinta pada akhirat. Rasulullah bersabda, yang menyebabkan kelemahan dan kekalahan umat ini adalah karena mereka cinta dunia dan takut mati. Dunia ini permainan, kelezatan dan kesenangan. Semua itu bisa menjadikan kita enggan berjuang, karena terbelenggu oleh permainan, kelezatan dan kesenangan dunia itu. “Cinta dunia takkan bertemu dengan cinta jihad, cinta harta takkan mungkin padu dengan cinta pengorbanan,” begitu ungkap Ali Gharisah, ulama asal Mesir.

KELIMA, memperdalam kisah-kisah tokoh pahlawan yang memiliki keberaniaan. Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri adalah salah seorang ulama di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid. Suatu ketika khalifah sedang melaksanakan ibadah Haji. Sebagaimana lazimnya penguasa, seluruh tempat yang akan dilaluinya tertutup untuk umum. Pada saat Khalifah sedang melakukan Sa’i antara bukit Marwah dan Shafa seorang diri, sambil disaksikan jemaah haji, berangkatlah Abdullah bin Abdul Aziz ke tempat sa’i. Sesampainya di Shafa, kebetulan khalifah baru saja tiba. Ia berteriak. “Haruuun...” Tanpa menyebut embel-embel kekhalifahan. Mendengar suara itu, seluruh jamaah termasuk khalifah terkejut, dan menoleh kearah datangnya suara. Melihat wajah yang memanggil, khalifah menjawab, “Labbaika ya amm?” ada apa wahai paman? Naiklah kebukit Shafa, lihatlah ke arah Ka’bah, berapa jumlah manusia disana?” ujar Abdullah bin Abdul Aziz.

Khalifah menjawab, “Tak ada yang mengetahui kecuali Allah.” Abdullah mengatakan, “Ketahuilah setiap orang dari mereka akan dimintai pertanggungjawabannya nanti dihadapan Allah dan kamu akan dimintai pertanggungjawabanmu oleh Allah atas dirimu dan atas seluruh rakyatmu. Lihatlah dirimu, apakah pantas kau perlakukan umat seperti ini?” Mendengar uraian Abdullah Harun Ar-Rasyid menangis dan mengakui kesalahan yang ia lakukan.

Abdullah adalah profil ulama yang mempunyai keberaniaan menyampaikan kebenaran. Ia mencontohkan bagaimana Nabiyullah Musa, Ibrahim dan Nabi Muhammad yang memiliki keberaniaan tinggi. Nyalinya besar menghadapi kejhatan bahkan kejahatan terstruktur. Pantang menyerah menghadapi kaum kuffar. Dengan modal keberaniaan itulah mereka meraih sukses besar membawa masyarakatnya pada dunia baru yang dicita-citakan.

KEENAM, berolah raga dan melakukan latihan-latihan fisik. Ini penting, selain untuk memelihara stamina tubuh, juga untuk menumbuhkan mental atau nyali agar tidak lemah. Rasulullah adalah orang yang paling menjaga ketahanan fisik dan menganjurkan umatnya berlatih bermain ketangkasan, seperti memanah, naik kuda, berenang dan sebagainya. Melaui aktivitas seperti itu, jiwa akan menjadi sportif dan berani menanggung resiko. Ali ra. menceritakan pada sat perang Badar semakin memanas, para sahabat berlindung di belakang Rasulullah, “Rasulullah adalah orang yang paling berani demikian ujar Ali ra.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

KETUJUH, biasakan hidup susah dan aktivitas penuh tantangan. Sebab, seperti kata Rasulullah, karunia dan kenikmatan itu tidak abadi. Orang yang biasa mengalami kesulitan, biasanya akan lebih hati-hati dan lebih serius menjalankan tanggungjawabnya. Secara mental iapun siap menanggung resiko pahit bila setelah ia maksimal menjalankan kewajiban. Disinilah tertanam sikap berani untuk kebenaran.

KEDELAPAN, bergaul dengan orang-orang yang penuh semangat dan bergelora. Pepatah Arab mengatakan, seseorang itu tawanan lingkungannya. Menciptakan lingkungan atau komunitas yang kondusif untuk melahirkan keberaniaan sangatlah penting. Karena kepribadian seseorang sangat tergantung dengan lingkungan tempat ia kerap berhubungan dengannya. Para sahabat dahulu biasa saling berlomba menampilkan berbagai pengorbanan dan keberanian dalam menegakkan Islam. Umar bin Khaththab ra., selalu ingin mencari kesempatan untuk melebihi Abu Bakar ra., dalam berinfaq. Rasulullah pun meski ia selaku pemimpin tertinggi saat itu, selalu menjadi panutan dalam soal keberaniaan.

KESEMBILAN, kuasai argumentasi dan alasan rasional yang bisa digunakan untuk mempertahankan kebenaran. Karena sesungguhnya kebenaran itu pasti logis dan rasional. Seseorang yang tak mampu menyampaikan sisi logis dan rasional. Seseorang yang tak mampu menyampaikan sisi logis dan rasionalnya sebuah kebenaran, akan dikalahkan oleh kesalahan yang bisa diarguymentasikan secara logika.

Kesembilan cara menghidupkan keberaniaan ini, intinya kembali kepada keyakinan seseorang terhadap kebenaran itu sendiri. Sejauh mana seseorang yakin dengan sebuah kebenaran, maka sebesar itulah ia memiliki keberanian untuk mempertahankannya.

Wallahu a’lam bi shawab.